29 March 2015

Review: The Gunman (2015)


Apakah Sean Penn mencoba memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan Liam Neeson setelah menyatakan akan pensiun dari Taken bahkan film action? The Gunman seperti sengaja di ciptakan khusus buat Penn agar ia dapat menunjukkan kepada kamu tampilan badass yang ia miliki, tapi celakanya sudahlah memilih menggunakan formula yang tidak lagi segar yang ia lakukan justru terjebak didalam arena bermain yang ia ciptakan sendiri. An impotent action.

Tentara pasukan khusus bernama Jim Terrier (Sean Penn) pada tahun 2006 dibayar untuk melakukan sebuah aksi pembunuhan di Kongo. Salah satu deal yang ia peroleh adalah Jim harus melarikan diri dan meninggalkan pacarnya Annie (Jasmine Trinca). Sekarang Jim bekerja di Kongo sebagai anggota misi kemanusiaan, namun suatu ketika hadir sosok yang ingin membunuhnya. Dari sana Jim sadar bahwa hal tersebut memiliki kaitan dengan masa lalunya tadi. 



Saya rasa untuk review kali ini saya akan memilih untuk tidak begitu panjang lebar membahas film ini, karena sisi positif yang ia berikan sangat sangat minim, sementara hal negative yang ia hasilkan merupakan hafalan dari film-film action yang gagal menjadi sebuah action menyenangkan. The Gunman gagal melakukan apa yang sahabat sekelasnya bernama Taken lakukan. Disini sang sutradara Pierre Morel seperti punya ambisi besar untuk menjadikan The Gunman tidak hanya sebatas film action dengan ledakan semata, ia menebar kesan ambigu bagi penonton. Hadir sebuah masalah yang seolah menggoda kita, tapi bukannya membuat kita terhibur dengan eksposisi yang mumpuni disini Morel justru melakukan sebuah tindakan yang fatal, ia membuat cerita yang seharusnya bercerita justru merasa bingung bagaimana cara bercerita.



Fokus banyak diletakkan di plot, tapi tidak dijaga dengan ketat serta alur yang kerap memberikan kamu kejutan dengan materi-materi yang kurang halus dan relevan, perlahan The Gunman akan terasa konyol. Sangat kaku dan kikuk, itu masalah lainnnya, Morel kurang cekatan memanfaatkan star power dari Sean Penn dengan gagal memberikannya momen untuk bersinar dan show-off. Penyebabnya ya itu tadi, ia lebih banyak bekerja keras dalam mengembangkan cerita yang sejak awal sudah ia canangkan dengan ambisi besar. Kesan bingungn muncul, alur menjadi lamban. Alur menjadi lamban, tensi menjadi berkurang. Tensi berkurang, daya tarik semakin tergerus. Daya tarik tergerus, semua perlahan semakin membosankan.



Sikap berani untuk memberikan sesuatu yang lebih memang layak di berikan apresiasi, tapi tidak dengan cara mengorbankan materi yang sesungguhnya cukup untuk menjadi action sederhana dalam level cukup untuk kemudian mencoba menjadi lebih besar dengan hasil sebuah kegagalan. The Gunman menderita karena ambisi, mencoba menggoda dengan ambiguitas sayangnya justru menghasilkan luka yang menyakitkan ketika semua upaya yang ia lakukan untuk tampak pintar justru berjalan ke arah yang berbeda, sebuah film action yang tidak imajinatif, hambar, miskin energi, dan well, membosankan. Yeah, it’s that bad.







0 komentar :

Post a Comment